Minggu, 01 Januari 2017

Pandangan Aliran Formalisme dan Konstruktivisme Tentang Matematika



Pandangan Aliran Formalisme dan Konstruktivisme Tentang Matematika 


Selamat datang di blog pertama saya :-),  materi pertama yang saya jelaskan disini adalah tentang aliran formalism dan konstruktifisme. eitz enggak cuma tentang ini saja yang dijelaskan, masih banyak materi lain yang akan sedikit saya coba uraikan pada blog ini. So stay on terus ya... 
  1. Formalisme
Di dalam aliran formalisme ada suatu pandangan yang mengatakan bahwa matematika seperti sebuah permainan di atas kertas. Matematika itu seperti sebuah permainan yang membuat kita penasaran, semakin tinggi tingkatan soal maka semakin memacu adrenalin kita dalam memecahkan soal matematika. Matematatika tidak selamanya menjadi hal yang menakutkan, apabila kita mencoba untuk lebih mengenal matematika maka aka ada sensasi terseniri dalam mempelajarinya. Aliran formalism dibentuk sekitar tahun 1910 oleh seorang ahli matematika dari German bernama David Hilbert. Aliran ini menekankan pada penggunaan lambang atau simbol kosong dari arti yang mengandung kebenaran matematika. Untuk menunjukkan bahwa simbol yang kosong dari arti terbebas dari segala kontradiksi maka digunakan teorema matematika. Teorema ini tidak serta merta diterima begitu saja, ada penyangkalan dari Kurt Godel yang mengatakan bahwa tidak semua kebenaran matematika dapat diturunkan dari aksiomatik. 
 
2.      Konstruktivisme


Konstruktivisme merupakan aliran yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil dari usaha pemahaman kita sendiri. Maksutnya adalah setiap apa yang kita pelajari sendiri dan pengetahuan yang kita cari tahu sendiri biasanya akan lebih kita pahami dan lebih melekat di memori kita. Nah aliran konstruktifisme ini bila di terapkan dalam dunia pendidikan sama halnya seperti k13 yang menunut siswanya untuk mandiri dalam mengetahui sesuatu sedang guru hanya sebagai fasilitator. Konstruktifisme dapat membuat siswa untuk aktif  bahkan dituntut aktif dalam mencari sesuatu hal yang baru, hal ini diyakini lebih membuat siswa mudah mengingat materi yang dipelajari karena ke aktifan mereka dan siswa juga akan mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru. Aliran konstruktifisme ini lebih mengedapankan proses belajar dari pada hasil. Namun kekurangan dari konstruktifisme ini yaitu dalam proses pembelajaran peran guru sebagai pendidik sepertinya kurang begitu mendukung. Karena siswa diminta untuk usaha sendiri atau aktif dalam proses pembelajaran dan mencari sesuatu yang baru ataupun menciptakan sebuah karya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar