Pandangan Aliran Formalisme dan Konstruktivisme Tentang
Matematika
Selamat datang di blog pertama saya :-), materi pertama yang saya jelaskan disini adalah tentang aliran formalism dan
konstruktifisme. eitz enggak cuma tentang ini saja yang dijelaskan, masih banyak materi lain yang akan sedikit saya coba uraikan pada blog ini. So stay on terus ya...
- Formalisme
Di dalam aliran
formalisme ada suatu pandangan yang mengatakan bahwa matematika seperti sebuah
permainan di atas kertas. Matematika itu seperti sebuah permainan yang membuat kita
penasaran, semakin tinggi tingkatan soal maka semakin memacu adrenalin kita
dalam memecahkan soal matematika. Matematatika tidak selamanya menjadi hal yang
menakutkan, apabila kita mencoba untuk lebih mengenal matematika maka aka ada
sensasi terseniri dalam mempelajarinya. Aliran formalism
dibentuk sekitar tahun 1910 oleh seorang ahli matematika dari German bernama
David Hilbert. Aliran ini menekankan pada penggunaan lambang atau simbol kosong dari arti yang mengandung kebenaran matematika. Untuk menunjukkan
bahwa simbol yang kosong dari arti terbebas dari segala kontradiksi maka
digunakan teorema matematika. Teorema ini tidak serta merta diterima begitu
saja, ada penyangkalan dari Kurt Godel yang mengatakan bahwa tidak semua
kebenaran matematika dapat diturunkan dari aksiomatik.
2. Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan aliran yang menekankan bahwa
pengetahuan kita merupakan hasil dari usaha pemahaman kita sendiri. Maksutnya
adalah setiap apa yang kita pelajari sendiri dan pengetahuan yang kita cari
tahu sendiri biasanya akan lebih kita pahami dan lebih melekat di memori kita. Nah
aliran konstruktifisme ini bila di terapkan dalam dunia pendidikan sama halnya
seperti k13 yang menunut siswanya untuk mandiri dalam mengetahui sesuatu sedang
guru hanya sebagai fasilitator. Konstruktifisme dapat membuat siswa untuk aktif bahkan dituntut aktif dalam mencari sesuatu
hal yang baru, hal ini diyakini lebih membuat siswa mudah mengingat materi yang
dipelajari karena ke aktifan mereka dan siswa juga akan mampu menghadapi dan
menyelesaikan masalah dalam situasi baru. Aliran konstruktifisme ini lebih
mengedapankan proses belajar dari pada hasil. Namun kekurangan dari
konstruktifisme ini yaitu dalam proses pembelajaran peran guru sebagai pendidik
sepertinya kurang begitu mendukung. Karena
siswa diminta untuk usaha sendiri atau aktif dalam proses pembelajaran dan
mencari sesuatu yang baru ataupun menciptakan sebuah karya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar